Paradigma Nilai Ekonomi Islam

Yuke Rahmawati
Dosen STIE Ahmad Dahlan

“Sistem perekonomian yang dianut oleh suatu bangsa (negara atau sekelompok masyarakat) tergantung dari doktrin, madzhab atau aliran pandangan ekonomi, yang pada gilirannya juga dipengaruhi oleh seperangkat nilai (set of value) yang dianut oleh bangsa atau kelompok masyarakat tersebut (seperti adat, kebiasaan, norma-norma, kepercayaan, ideologi dan falsafah)”
(Deliarnov, 1995)

A. Pendahuluan
Umat Islam secara utuh telah memiliki dasar pijakan dalam menjalalani kehidupannya, tak terkecuali dalam hal perekonomian. Sistem perekonomian ini jelas disandarkan pada pedoman utama yakni al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Meski sesungguhnya, pedoman ini tidak hanya berlaku untuk umat Islam saja, namun juga untuk umat manusia secara keseluruhan, karena sifatnya yang universal dan rahmatan lil’alamin.
Menurut falsafah dasarnya, sistem ekonomi Islam terbangun dalam segi tiga piramida aqidah, syari’ah dan akhlaq dengan doktrin fundamental (al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas) yang mempengaruhi pada seluruh kegiatan ekonomi, baik perilaku konsumsi, perilaku produksi, perilaku distribusi, perilaku simpanan (saving), dan perilaku investasi.
Seperti diungkap Deliarnov diatas, bahwa sistem perekonomian sangat tergantung pada seperangkat nilai yang dianut, yang diakui mampu memberikan kesejahteraan ekonomi pada masyarakatnya. Maka sistem ekonomi Islam sangat menekankan, bahwa kesejahteraan manusia tidak saja hanya didunia, tetapi juga diakhirat. Oleh karenanya, sistem ekonomi Islam memiliki dua aspek nilai secara global, yakni nilai dasar dan nilai instrumental.

B. Nilai-Nilai Dasar Ekonomi Islam

Secara spesifik, sistem ekonomi Islam memiliki 5 (lima) nilai dasar utama, yaitu:
1. Kepemilikian (Ownership)
Konsep kepemilikan dijadikan nilai pijakan pertama dalam ekonomi Islam bukan tidak mengandung arti yang signifikan. Tetapi justru nilai inilah yang menjadi sandaran utama manusia, bahwa mereka tidak mempunyai hak mutlak atas segala yang dimilikinya di dunia ini.
Absolutisme kepemilikan hanya disandarkan kepada Allah SWT sebagai pemilik ‘asli’ dari seluruh alam semesta. Nilai ini pula yang mempunyai pengaruh kuat terhadap kehidupan manusia dalam menjalankan aktivitas ekonominya. Ketika seseorang telah mendapatkan dan memiliki apa yang telah ia usahakan sebagai suatu materi, ia harus sadar bahwa semua itu hanya sebuah titipan, yang memungkinkan untuk diambil atau dikembalikan kepada sang pemilik. Bahwa yang ada di dunia ini akan kembali kepada-Nya, bahkan diri manusia itu sendiri. Bahwa manusia hanya diberi amanah atas semua yang diberikan. Sebagaimana tercantum dalam QS. 2:30 dan QS. 33:72.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلُُ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ {30}
Artinya: “Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat:”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata:”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau”. Rabbberfirman:”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. 2:30)

إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً {72}
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. 33:72)
Bentuk hubungan diatas adalah hubungan garis lurus antara manusia dengan Allah, yang tidak bisa di”gugat” oleh manusia manapun. Namun, kaualitas dari ketidak mutlakan manusia dalam hal kepemilikan adalah adanya hubungan horisontal antara manusia satu dengan lainnya. Bahwa ada hak hidup, hak menikmati bagi manusia yang lain, yang miskin, yang tidak punya kemampuan untuk berusaha, tidak berpenghasilan, tidak berkecukupan dari manusia lainnya yang kaya dan berkecukupan.
Oleh karenanya, konsep nilai kepemilikan ini tidak terlepas pula dari konsep “khilafah”, dimana manusia sebagai khalifah/wakil Allah di muka bumi ini dalam hal menjaga dan mengelola semua sumber-sumber alam yang diberikan. Dengan konsep ini pula seorang manusia diberi “hak” oleh Allah diantara manusia lainnya. Hak memiliki kemanfaatan akan sumber-sumber ekonomi, bukan menguasainya secara mutlak. Semua itu supaya manusia dapat menikmati, merasakan maupun memanfaatkan segala apa yang telah ia dapatkan dari hasil usahanya dan Allah menjamin hak-hak tersebut agar tidak dilanggar. Hadist yang mencatat hal ini adalah “Haram bagi setiap muslim atas muslim lainnya (jika menganiaya), jiwanya, hartanya dan kehormatannya” (HR. Muttafaqun ‘Alaih). Dengan nilai dan konsep demikianlah, Islam sangat mengakui akan adanya hak kepemilikan secara pribadi.
2. Kebebasan (Freewill)
Secara umum makna kebebasan dalam ekonomi, dapat melahirkan dua pengertian yang luas, yakni; kreatif dan kompetitif. Dengan kreatifitas, seseorang bisa mengeluarkan ide-ide, bisa mengekplorasi dan mengekspresikan potensi yang ada dalam diri dan ekonominya untuk menghasilkan sesuatu. Sedangkan dengan kemampuan kompetisi, seseorang boleh berjuang mempertahankan, memperluas dan menambah lebih banyak apa yang diinginkannya.
Dalam ekonomi Islam, makna kebebasan adalah memperjuangkan apa yang menjadi haknya dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya sesuai perintah syara’.
Sebagaimana konsep kepemilikan, konsep kebebasan dalam berekonomi menurut Islam, tidak boleh keluar dari aturan-aturan syari’at. Bahwa manusia diberi keluasan dan keleluasaan oleh Allah untuk berusaha mencari rizki Allah pada segala bidang, ya. Namun tetap pada koridor usaha yang tidak melanggar aturan –Nya. Firman Allah swt:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي اْلأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ {10} وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَآئِمًا قُلْ مَاعِندَ اللهِ خَيْرُُ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ {11}
Artinya: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. 62:10)
Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah:”Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah sebaik-baik Pemberi rezki. (QS. 62:11)
Kebebasan ekonomi Islam adalah kebebasan berakhlaq. Berakhlaq dalam berkonsumsi, berproduksi dan berdistribusi. Dengan kebebasan berkreasi dan berkompetisi akan melahirkan produktifitas dalam ekonomi. Dengan dasar ayat diatas juga, Islam menyarankan manusia untuk produktif. Kegiatan produksi adalah bagian penting dalam perekonomian.
Sedangkan kebebasan tidak terbatas adalah perilaku yang bisa mengakibatkan ketidak serasian antara pertumbuhan produksi dengan hak-hak golongan kecil dalam sistem distribusinya. Yang akhirnya akan merusak tatanan sosial. (AM Saefuddin, 1984) Allah memperingatkan dalam QS. 104:1-3
وَيْلُُ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ {1} الَّذِي جَمَعَ مَالاً وَعَدَّدَهُ {2} يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ {3}
Artinya: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung, ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya..”
3. Keadilan (Equity)
Perilaku adil adalah perilaku utama yang diungkap Allah dalam al-Qur`an, lebih dari seribu kali Ia menyebutnya. Ini menunjukkan bahwa nilai keadilan memiliki bobot yang sangat dimulyakan dalam Islam. Nilai keadilan merupakan manifestasi nyata dari kebebasan yang terbatas dalam Islam. Konsep ini mengikat kebebasan mutlak yang dianut sebagian manusia, sehingga perilaku bebas dibatasi oleh rasa keadilan.
Kebebasan berkonsumsi yang diiringi akhlaq adil, niscaya menciptakan kesederhanaan dan terhindar dari keborosan. Kebebasan berproduksi yang dibarengi nilai keadilan, akan membangun efisiensi dan pemerataan. Nilai-nilai ini semua terkandung dalam al-Qur`an dengan menyiratkan bahwa konsep ini jauh dari sifat kedzaliman (aniaya). Dalam ayat ini misalnya, Allah meminta pertanggungjawaban manusia akan nilai keadilan yang dibebankan; QS. 6:165
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلاَئِفَ اْلأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَآءَاتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ {165}
Artinya: “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa dibumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikanNya kepadamu. Sesungguhnya Rabbmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 6:165)
Adapun perintah berlaku adil, Allah berfirman dalam QS. 16:90 dan QS. 4:135
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ {90}
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu daoat mengambil pelajaran. (QS. 16:90)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَآءَ للهِ وَلَوْ عَلَىأَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَاْلأَقْرَبِينَ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلاَ تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَن تَعْدِلُوا وَإِن تَلْوُا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا {135}
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (QS. 4:135)
Makna keadilan sendiri sering diartikan sebagai sikap yang selalu menggunakan ukuran sama, bukan ukuran ganda. Dan sikap ini yang membentuk seseorang untuk tidak berpihak pada salah satu yang berselisih (Murasa S, 2004). Adil menurut Al-Ashfahani, dinyatakan sebagai memperlakukan orang lain setara dengan perlakuan terhadap diri sendiri. Dimana ia berhak mengambil semua yang menjadi haknya, dan atau memberi semua yang menjadi hak orang lain (Quraish Shihab, 2002).
Dengan prinsip nilai keadilan diatas, maka sangatlah jelas bahwa syari’at Islam dalam sistem ekonomi adalah untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan ekonomi seluruh manusia, bukan sebahagian saja. Bila hal ini tetap dilakukan, vonis Allah pasti, dalam QS. 17:16,
وَإِذَآ أَرَدْنَآ أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا {16}
Artinya: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (suatu mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS. 17:16)
4. Keseimbangan (Equality)
Konsep keseimbangan menjadi konsep lanjutan yang memiliki benang merah dengan konsep keadilan. Allah menggambarkan posisinya dengan kondisi dimana bila terjadi ketimpangan dalam kehidupan berekonomi, maka hendaknya dikembalikan pada posisi semula. Posisi yang tuju adalah keseimbangan, pertengahan, keadilan.
Beberapa landasan yang mendukung prinsip ini diantaranya:
أَلاَّ تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانَ {8} وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلاَتُخْسِرُوا الْمِيزَانَ {9}
Artinya: “Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. (QS. 55:8). Dan tegakkanlah timbangan dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (QS. 55:9)
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا…
Artinya: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….

Keseimbangan adalah tidak berat sebelah, baik itu usaha-usaha kita sebagai individu yang terkait dengan keduniaan dan keakhiratan, maupun yang terkait dengan kepentingan diri dan orang lain, tentang hak dan kewajiban. Sebagaimana Allah menyebutnya dalam QS. 2:201 dan QS. 25:67

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ{201}

Artinya: “Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a:”Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. 2:201)

وَالَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا {67}

Artinya: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. 25:67)

Konsep keseimbangan ini juga berdasar pada rasa keadilan yang didukung dengan suatu tingkat kebaikan (ihsan) dalam pemenuhan hak seseorang. Bila rasa Adil adalah mengambil apa yang menjadi haknya dan memberikan apa yang menjadi hak orang lain, maka Ihsan adalah memberi lebih banyak dan mengambil lebih sedikit dari apa yang menjadi haknya (Murasa S, 2004). Dalam Islam, konsep ini tidak hanya menjadi prinsip dasar manusia sebagai acuan dalam berbagai kegiatan ekonominya, tetapi juga manusia mempunyai kewajiban untuk menjaga keseimbangan yang telah tercipta sebelumnya. Firman Allah:
سَبِّحِ اسْمِ رَبِّكَ اْلأَعْلَى {1} الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى {2} وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى {3}
Artinya: “Sucikanlah nama Rabbmu Yang Paling Tinggi, (QS. 87:1) yang menciptakan,dan menyempurnakan (penciptaan-Nya). (QS. 87:2) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk. (QS. 87:3)
Bila Allah memang berkehendak pada makhluk ciptaannya berbeda satu sama lainnya, disanalah letak keseimbangannya. Bahwa perbedaan ada bukan untuk dijadikan kesenjangan (gap), tapi justru untuk mencapai keseimbangan atau keselarasan. Misalnya saja, adanya gradasi (hirarki) ekonomi menurut Islam. Hal ini merupakan Sunnatulah (hukum alam), merupakan bagian kadar-kadar yang ditentukan Allah. Adapun “kesenjangan” adalah lawan dari Sunnatullah (dibuat atas keserakahan sebagian manusia), yang justru merusak keseimbangan. Dalam QS. 43:32 Allah berfirman:
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمُت رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجَمْعَوُنَ {32}
Artinya: “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain.Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. 43:32)

5. Kebersamaan dan Persamaan (Togetherness and Egaliter)
Nilai dasar kelima ini menjadi ciri khas pada sistem perekonomian Islam. Prinsip Ukhuwwah (brotherhood) yang menjadi salah satu pilar bangunan ekonomi Islam, melahirkan konsep kebersamaan dan persamaan hak dalam segala kegiatan ekonominya.