Semua manusia sesenggguhnya memiliki kebebasan dalam menentukan berbagai pilihan demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka boleh mencari, menggali, mendapatkan bahkan mengembangkan. Dengan kebebasan, manusia bisa berkreasi dan melakukan sesuatu yang produktif, sehingga manusia dapat menjalankan kehidupannya secara berkelanjutan. Ajaran Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk melakukan semua itu, tanpa kecuali apakah mereka memiliki kekurangan, baik fisik maupun ekonomi. Islam memberikan keleluasaan kepada manusia untuk mendapatkan haknya, terutama lima hak dasar hidupnya, yakni Al-Dien, Al-‘Aql, An-Nasl, An-Nafs dan Al-Maal. Dengan terpenuhinya lima hak dasar ini, manusia telah mendapatkan “kebebasan” dalam menjalani kehidupannya.
Islam dengan wahyu Allah jelas memberikan keluasan pada manusia untuk senantiasa berusaha demi pemenuhan kebutuhan hidupnya tersebut. QS al-Jumu’ah ayat 10 menyatakan dengan jelas keluasan itu. Disinilah ajaran Islam melakukan perannya, membimbing manusia (dengan wahyu) untuk melaksanakan kebebasan yang dikehendaki-Nya, bahkan melakukan “pembebasan” pada manusia lainnya atas dasar bahwa semua manusia berhak mendapatkan kebebasan hidup tadi.
Implikasi logis dari konsep kebebasan berekonomi menurut Islam ini adalah melahirkan unsur kreatifitas dalam diri manusia, sehingga manusia bisa produktif. Dengan produktif manusia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya.
Secara umum makna kebebasan dalam ekonomi, dapat melahirkan dua pengertian yang luas, yakni; kreatif dan kompetitif. Dengan kreatifitas, seseorang bisa mengeluarkan ide-ide, bisa mengekplorasi dan mengekspresikan potensi yang ada dalam diri dan ekonominya untuk menghasilkan sesuatu. Sedangkan dengan kemampuan kompetisi, seseorang boleh berjuang mempertahankan, memperluas dan menambah lebih banyak apa yang diinginkannya.
Dalam ekonomi Islam, makna kebebasan adalah memperjuangkan apa yang menjadi haknya dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya sesuai perintah syara’.
Sebagaimana konsep kepemilikan, konsep kebebasan dalam berekonomi menurut Islam, tidak boleh keluar dari aturan-aturan syari’at. Bahwa manusia diberi keluasan dan keleluasaan oleh Allah untuk berusaha mencari rizki Allah pada segala bidang, ya. Namun tetap pada koridor usaha yang tidak melanggar aturan –Nya. Firman Allah swt:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي اْلأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ {10} وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَآئِمًا قُلْ مَاعِندَ اللهِ خَيْرُُ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ {11}
Artinya: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. 62:10)
Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah:”Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah sebaik-baik Pemberi rezki. (QS. 62:11)
Kebebasan ekonomi Islam adalah kebebasan berakhlaq. Berakhlaq dalam berkonsumsi, berproduksi dan berdistribusi. Dengan kebebasan berkreasi dan berkompetisi akan melahirkan produktifitas dalam ekonomi. Dengan dasar ayat diatas juga, Islam menyarankan manusia untuk produktif. Kegiatan produksi adalah bagian penting dalam perekonomian.
Sedangkan kebebasan tidak terbatas adalah perilaku yang bisa mengakibatkan ketidak serasian antara pertumbuhan produksi dengan hak-hak golongan kecil dalam sistem distribusinya. Yang akhirnya akan merusak tatanan sosial. (AM Saefuddin, 1984) Allah memperingatkan dalam QS. 104:1-3
وَيْلُُ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ {1} الَّذِي جَمَعَ مَالاً وَعَدَّدَهُ {2} يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ {3}
Artinya: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung, ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya..”